Kamis, 24 September 2009

IQ (intellligence quotient) vs EQ (emotional quotient)


Definition of IQ (Intelligence Quotient) is how intelligent a person, 
whereas the definition of EQ (Emotional Quotient) is how well a person 
use the intelligence he had.

Peter Salovey, a Yale psychologist and originator of the term EQ stated that 
IQ causes one to get a job, while the EQ cause 
someone get a promotion in the job. He also suggested 
the importance of defining, in our complex world, what it means to be 
intelligent.
In short, when someone will  "that will predict success, 
brain power as measured by IQ and achievement tests, actually
smaller than the character, or his EQ.
Salovey shows a simple test in which children aged 4 years 
invited into a room and given instructions as follows: 
   Â "Who wants marshmallows 1 candy fruit today can directly
get; but if anyone want to wait can get 2 pieces after 
My back. "Then, the researcher had left the room.
The first group of children immediately when the researchers took marshmallows 
out of the room, while the second group of researchers wait again. 
Then the results of grouping children and the researchers recorded the children waiting 
it grows up into the high school age.

Apparently there are significant differences between the two groups of children 
it. Group 2 children who receive a marshmallow fruit has the ability 
better adaptation, more popular, adventurous, confident and 
independent than the first group. While the first group of children 
more aloof, easily frustrated, stubborn, does not bear stress, 
shy and avoid challenges.
When the two groups took the aptitude tests related to the lesson 
academic school, the second group can survive, get better value 
210 points greater than the first group (test scores ranged from 
the lowest 200 points to 800 points with the highest, with average 
500 points for all students).
Have you ever asked how a child who is the brightest in a classroom 
koq can not have a successful end? Or, why some people 
managed to survive in the face of major trauma while others do not? 
This may result because of differences in EQ from someone.
EQ is not the opposite of IQ, and obviously everyone is expecting 
for granted the ability both large enough. However, there is little 
doubt that people with less EQ levels sufficient to meet 
difficulty to survive in life.
For five generations, the researchers continue to discuss whether the possible 
improve one's IQ? Genetically answer is no. But when 
brain power researchers (brainpower) are still arguing about this, the 
social science researchers concluded that the possibility of improving one's EQ, and 
specifically, the skills a person, such as: empathy, flexible.
Social experts continually emphasize situations where experience has 
changing one's EQ. For example, research indicates that education 
that when students are introduced to the child's normal age but flawed, they 
incoming category First Group can enhance the ability of empathy 

Furthermore, if introduced to students who have behavior 'recalcitrant' 
in an age class, the Second Group category will increase 
ability. Even more rapid progress 
occurs also in the group of children who have behavior 'tough' it. 

Social experts concluded that the study is probably very appropriate EQ 
performed on people who are classified as pessimistic and 
optimistic. People who are optimistic have a high EQ and saw the constraints 
is a minor, on the contrary is true for the pessimistic 
with a low EQ. In the circle of social research, high EQ shows 
person's ability to survive, and here may occur in the crossing 
between EQ, IQ, genetics and the environment.
To quote the words of Charles Darwin: ”The biggest, the smartest, and the
strongest are not the survivors. Rather, the survivors are the most adaptable.”
Among us who can survive and thrive in the world ahead of 
This complex not only those who are most able to adapt, but also the 
The most optimistic and it seems to have their most EQ 
high.



in indonesia
Definisi IQ (Intelligence Quotient) adalah seberapa cerdas seseorang,  sedangkan definisi EQ (Emotional Quotient) adalah seberapa baik seseorang  mempergunakan kecerdasan yang dimilikinya.       Peter Salovey, seorang psikolog Yale dan pencetus istilah EQ menyatakan bahwa  IQ menyebabkan seseorang mendapat suatu pekerjaan, sedangkan EQ menyebabkan  seseorang mendapatkan promosi dalam pekerjaan itu. Beliau juga menyarankan  pentingnya mendefinisikan, dalam dunia kita yang kompleks, apa artinya menjadi  cerdas.    Singkatnya, ketika seseorang akan “memprediksi sukses yang akan datang”,  kekuatan otak sebagaimana diukur oleh IQ dan achievement test, sesungguhnya  lebih kecil dibanding karakter, atau EQ-nya.        Salovey menunjukkan sebuah tes sederhana dimana anak-anak berusia 4 tahun  diundang masuk kedalam suatu ruangan dan diberi instruksi sbb:   “Siapa yang mau 1 buah permen marshmallow sekarang ini bisa langsung  mendapatkannya; tapi jika ada yang mau menunggu boleh mendapat 2 buah setelah  saya kembali nanti.” Kemudian, si peneliti itu meninggalkan ruangan tersebut.       Kelompok anak pertama seketika itu juga mengambil marshmallow saat peneliti  keluar ruangan, sementara kelompok yang kedua menunggu peneliti kembali.  Kemudian hasil pengelompokan anak dicatat dan para peneliti menunggu anak-anak  tersebut tumbuh berkembang sampai memasuki usia sekolah lanjutan.       Rupanya terjadi perbedaan yang berarti di antara kedua kelompok anak  tersebut. Kelompok anak yang memperoleh 2 buah marshmallow memiliki kemampuan  adaptasi yang lebih baik, lebih populer, berjiwa petualang, percaya diri dan  mandiri ketimbang kelompok yang pertama. Sedangkan kelompok anak yang pertama  lebih bersifat menyendiri, mudah frustasi, keras kepala, tidak tahan stres,  pemalu dan menghindari tantangan.       Ketika kedua kelompok mengambil tes bakat yang berhubungan dengan pelajaran  akademik sekolah, kelompok kedua yang mampu bertahan, mendapat nilai lebih  besar 210 poin ketimbang kelompok yang pertama (nilai tes bervariasi mulai dari  yang terendah 200 poin sampai dengan tertinggi 800 poin, dengan angka rata-rata  500 poin untuk seluruh murid).       Pernahkah Anda bertanya bagaimana seorang anak yang tercerdas di suatu kelas  koq bisa tidak mengalami suatu akhir yang sukses? Atau, mengapa ada orang yang  berhasil bertahan saat menghadapi trauma besar sementara yang lainnya tidak?  Mungkin ini diakibatkan oleh karena perbedaan EQ dari seseorang.       EQ bukan merupakan lawan dari IQ, dan jelas setiap orang sangat mengharapkan   untuk dianugrahi kemampuan keduanya yang cukup besar. Namun, ada sedikit  keraguan bahwa orang dengan tingkat EQ yang kurang mencukupi akan menemui  kesulitan dalam bertahan dalam kehidupannya.       Selama lima generasi, para peneliti terus berdiskusi apakah memungkinkan  meningkatkan IQ seseorang? Secara genetis jawabnya adalah Tidak. Tapi ketika  para peneliti kekuatan otak (brainpower) masih berdebat mengenai hal ini, para  peneliti ilmu sosial menyimpulkan kemungkinan peningkatan EQ seseorang, dan  secara khusus, keterampilan seseorang, seperti misalnya: empati, luwes,     Para ahli sosial secara kontinyu menekankan situasi di mana pengalaman telah  mengubah EQ seseorang. Contohnya, peneliti bidang pendidikan mengindikasikan  bahwa ketika murid normal diperkenalkan dengan anak seusia tapi cacat, mereka  yang masuk kategori Kelompok Pertama dapat meningkatkan kemampuan empati           Selanjutnya, jika diperkenalkan dengan murid yang memiliki perilaku 'bandel'  dalam sebuah kelas seusia, kategori Kelompok Kedua akan meningkatkan  kemampuannya. Kemajuan lebih pesat malah  terjadi juga dalam kelompok anak yang memiliki perilaku 'bandel' tersebut.        Ahli sosial menyimpulkan bahwa penelitian EQ barangkali sangat cocok  dilakukan pada orang-orang yang dikategorikan sebagai pesimistis dan  optimistis. Orang yang optimis memiliki EQ yang tinggi dan melihat kendala  merupakan hal yang minor, sebaliknya berlaku juga bagi kelompok pesimistis  dengan EQ rendah. Dalam lingkaran penelitian sosial, EQ tinggi menunjukkan  kemampuan seseorang untuk bertahan, dan di sini mungkin terjadi persilangan di  antara EQ, IQ, genetika dan lingkungan.       Mengutip kata-kata Charles Darwin: ”The biggest, the smartest, and the  strongest are not the survivors. Rather, the survivors are the most adaptable.”       Di antara kita yang bisa bertahan dan maju berkembang dalam dunia yang  kompleks ini bukan hanya mereka yang paling bisa beradaptasi, namun juga yang  paling optimistik dan ini sepertinya adalah mereka yang paling memiliki EQ  tinggi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar